Selasa, 29 Maret 2016

Surga Tersembunyi di Kota Bengkulu



Bengkulu merupakan salah satu provinsi yang terletak di pulau Sumatera yang "katanya" sangat terkenal dan identik dengan Bunga Rafflesia Arnoldi sebagai ikonnya. Sejarah juga turut mencatat beberapa peristiwa penting yang berkaitan dengan kemerdekaan Indonesia terjadi di kota ini, salah satunya adalah diasingkannya Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno oleh pemerintah kolonial selama empat tahun yakni dari tahun 1938 hingga 1942. Selain itu beliau juga menikahi seorang gadis asli keturunan Bengkulu yaitu Fatmawati. Lalu ada juga Benteng Fort Malborough yang merupakan peninggalan bangsa Inggris ketika masa penjajahan dulu. Tapi dibalik itu semua apakah kota Bengkulu memang sudah seterkenal itu? Apakah Kota Bengkulu sudah dikenal secara luas oleh masyarakat Indonesia? Jika memang sudah sangat terkenal, mengapa masih saja ada orang-orang yang ketika kita menyebutkan “Kota Bengkulu” masih saja bertanya-tanya dipulau mana sebenarnya provinsi itu berada?

Seringkali ada anggapan bahwa Bengkulu merupakan kota yang tertinggal, bahkan pemberitaan mengenai Kota Bengkulu baru akan disiarkan secara luas melalui media nasional apabila ada bencana alam seperti halnya gempa bumi (yang memang sering terjadi menimpa kota Bengkulu) atau seperti kasus yang baru-baru ini terjadi yaitu  kebakaran yang menimpa Lapas Malabero. Anggapan seperti itulah yang seharusnya dihilangkan. Kota Bengkulu seharusnya dikenal luas bukan karena hal-hal yang berbau negatif tapi justru dari sisi positifnya. Baru-baru ini beberapa tempat wisata yang ada di Provinsi Bengkulu diliput kedalam salah satu program acara televisi. Beberapa tempat wisata itu diantaranya Air Tejun Sengkuang yang terletak di kabupaten Kepahiyang, Pulau Tikus, Pantai Zakat, dll. Hal tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya banyak sekali potensi yang bisa digali tidak hanya dari segi pariwisata tapi juga dari segi budaya, maupun sejarahnya. Tapi sangat disayangkan pengelolaan dan pengembangan potensi tersebut masih kurang dimanfaatkan dengan efekif. 

Salah satu contoh potensi parawisata yang masih kurang efektif pengelolaannya yang paling umum adalah Pantai. Seperti yang kita ketahui Kota Bengkulu terkenal akan keindahan pantai-pantainya yang tidak kalah ataupun bahkan mungkin jauh lebih indah bila dibandingkan dengan Pantai Kuta di Bali yang sudah sangat termahsyur hingga mancanegara. Kebetulan pada bulan november tahun 2015 yang lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi Pantai Kuta Bali. Sebelumnya saya sangat antusias untuk mengunjungi pantai tersebut, tetapi setelah tiba disana saya merasa sedikit (hanya sedikit) kecewa karena apa yang saya ekspektasikan sedikit berbeda dari realita yang ada. Sebelumnya saya mengira bahwa Pantai Kuta sama bagusnya seperti apa yang biasanya saya lihat ditelevisi, tapi ternyata apa yang ditampilkan ditelevisi itu hanyalah berdasarkan pada apa yang ingin diperlihatkan kepada pemirsanya saja (hanya hal yang bagus-bagus saja). Menurut pandangan pribadi saya, jika di bandingkan dengan Pantai Kuta sebenarnya Pantai Panjang jauh lebih indah. Hal tersebut dikarenakan Pantai Panjang memiliki pesonanya sendiri yaitu pasirnya yang putih dan lembut. Jika memang demikian mengapa Pantai Kuta Bali yang sebenarnya tidak jauh lebih  bagus dari Pantai Panjang itu bisa begitu terkenal sedemikian rupa hingga ketelinga para turis asing di mancanegara? 

Sebenarnya, jika dikelola dengan baik Pantai Panjang  juga bisa menyusul ketenaran dari Pantai Kuta. Pantai Kuta bisa lebih unggul dikarenakan pihak dari pengelola dan masyarakatnya sendiri bisa bekerja sama untuk mengelola berbagai sumber daya yang ada dengan sangat apik. Pantai tersebut di promosikan sedemikian rupa sehingga bisa menarik minat para wisatawannya. Untuk Kota Bengkulu sendiri kepedulian masyarakat jangankan untuk ikut mengelola dan mengembangkan berbagai potensi-potensi wisata tersebut bahkan untuk menjaga pantai-pantai dan tempat- tempat lain yang ada sebagai potensi pariwisata masih sangat rendah. Hal tersebut terbukti dari banyaknya sampah-sampah yang berserakan disekitaran pesisir pantai, dan yang lebih mirisnya lagi sampah- sampah tersebut justru berasal dari para pengunjung yang kebanyakan merupakan masyarakat Kota Bengkulu itu sendiri. Masyarakat yang mengunjungi pantai seringkali melupakan pentingnya menjaga kebersihan, padahal hal tersebut sangat berpengaruh karena apabila pantai-pantai tersebut bersih pastilah para wisatawan akan lebih tertarik untuk mengunjunginya. Selain itu banyak sekali tempat-tempat wisata yang disalah gunakan oleh masyarakat, seperti contohnya Benteng For Malborough. Kondisi dari situs peninggalan bersejarah itu juga sangat memprihatinkan. Benteng yang seharusnya berfungsi sebagai museum bersejarah dan dijaga dengan baik malah disalah gunakan dan bahkan ada banyak coret-coretan yang bisanya dilakukan oleh para pelajar ataupun masyarakat yang berkunjung kesana.

Selain itu Bali juga sangat terkenal dengan kekentalan dan keanekaragaman kebudayaannya. Masyarakat bali dikenal sangat menjujung tinggi, menghargai, menghormati, dan gencar untuk melestarikan serta mempromosikan kebudayaannya sehingga membuat para wisatawan ikut terbius dengan kesakralan dari kebudayaan itu sendiri. Sebenarnya Kota Bengkulu juga bisa menyusul keberhasilan Pulau Bali yang menjadi destinasi utama liburan para pelancong baik dari luar maupun dalam negeri. Jika Bali mempunyai adat istiadat dan kebudayaan yang kental, kita pun juga mempunyai keistimewaan tersebut. Seperti yang kita sama-sama ketahui, Bengkulu mempunyai sebuah upacara yang diadakan pada tanggal 1 hingga 10 Muharram setiap tahunnya yaitu upacara Tabot. Selain itu ada juga berbagai kerajinan-kerajinan unik dan makanan yang khas. Tapi seiring dengan perkembangan zaman dan kemodernisasian,  kesakralan dan esensi dari upacara tersebut kian memudar tiap tahunnya. Upacara Tabot yang dulunya sangat ditunggu-tunggu dan dianggap sakral, perlahan mulai dianggap biasa. Antusiasme masyarakat untuk menyambut upacara tersebut pun tidak seperti dulu lagi, hal tersebut terbukti dari jumlah masyarakat yang mengunjungi lokasi dimana upacara tersebut berpusat terliha kian menurun pada setiap tahunnya. 

Jika kita memang ingin memajukan dan menggali berbagai potensi yang ada di Kota Bengkulu ini, hendaknya kita sebagai masyarakatnya ikut bertindak. Memang akan muncul berbagai pernyataan seperti “Memangnya apa yang bisa kita lakukan? Toh kita cuma masyarakat biasa yang tidak punya kewenangan apa-apa, semua itu kembali lagi tergantung pada pemerintahnya.” Semua keputusan dan pengelolaan sumber daya dan potensi yang ada pada tiap-tiap daerah memang sudah merupakan kewenangan dari pemerintah tapi kita sebagai masyarakat  tidak bisa terus-terusan bergantung dan melimpahkan semuanya pada pemerintahan, toh apabila nantinya pemerintah sudah gencar-gencarnya melakukan pengelolaan untuk berbagai potensi tersebut akan tetap terasa percuma saja jika kita sebagai masyarakatnya masih tidak bisa menjaganya dengan baik. Itu artinya hendaknya baik masyarakat maupun pemerintah berusaha bersama-sama dan saling bahu membahu untuk membangun Bengkulu, bukannya malah saling salah menyalahkan satu sama lain.

Sebenarnya masih banyak sekali potensi-potensi yang bisa digali dari Provinsi Bengkulu, hanya saja kita sebagai masyarakatnya yang kurang pandai dan cermat dalam memanfaatkan berbagai potensi tersebut. Setidaknya jika kita memang masih belum bisa menjadi pelopor untuk sebuah perubahan yang lebih baik, marilah memulai dengan menjaga apa yang sudah ada dan bukannya malah menambah kerusakan. Pasti akan selalu ada jalan jika ada kemauan untuk merubah Kota Bengkulu menjadi lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar