Bengkulu
merupakan salah satu provinsi yang terletak di pulau Sumatera yang
"katanya" sangat terkenal dan identik dengan Bunga Rafflesia Arnoldi
sebagai ikonnya. Sejarah juga turut mencatat beberapa peristiwa penting yang
berkaitan dengan kemerdekaan Indonesia terjadi di kota ini, salah satunya
adalah diasingkannya Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno oleh
pemerintah kolonial selama empat tahun yakni dari tahun 1938 hingga 1942.
Selain itu beliau juga menikahi seorang gadis asli keturunan Bengkulu yaitu
Fatmawati. Lalu ada juga Benteng Fort
Malborough yang merupakan peninggalan bangsa Inggris ketika masa penjajahan
dulu. Tapi dibalik itu semua apakah kota Bengkulu memang sudah seterkenal itu?
Apakah Kota Bengkulu sudah dikenal secara luas oleh masyarakat Indonesia? Jika
memang sudah sangat terkenal, mengapa masih saja ada orang-orang yang ketika kita
menyebutkan “Kota Bengkulu” masih saja bertanya-tanya dipulau mana sebenarnya
provinsi itu berada?
Seringkali ada anggapan
bahwa Bengkulu merupakan kota yang tertinggal, bahkan pemberitaan mengenai Kota
Bengkulu baru akan disiarkan secara luas melalui media nasional apabila ada
bencana alam seperti halnya gempa bumi (yang memang sering terjadi menimpa kota
Bengkulu) atau seperti kasus yang baru-baru ini terjadi yaitu kebakaran yang menimpa Lapas Malabero.
Anggapan seperti itulah yang seharusnya dihilangkan. Kota Bengkulu seharusnya
dikenal luas bukan karena hal-hal yang berbau negatif tapi justru dari sisi
positifnya. Baru-baru ini beberapa tempat wisata yang ada di Provinsi Bengkulu
diliput kedalam salah satu program acara televisi. Beberapa tempat wisata itu diantaranya
Air Tejun Sengkuang yang terletak di kabupaten Kepahiyang, Pulau Tikus, Pantai
Zakat, dll. Hal tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya banyak sekali potensi
yang bisa digali tidak hanya dari segi pariwisata tapi juga dari segi budaya,
maupun sejarahnya. Tapi sangat disayangkan pengelolaan dan pengembangan potensi
tersebut masih kurang dimanfaatkan dengan efekif.
Salah satu
contoh potensi parawisata yang masih kurang efektif pengelolaannya yang paling umum
adalah Pantai. Seperti yang kita ketahui Kota Bengkulu terkenal akan keindahan
pantai-pantainya yang tidak kalah ataupun bahkan mungkin jauh lebih indah bila
dibandingkan dengan Pantai Kuta di Bali yang sudah sangat termahsyur hingga
mancanegara. Kebetulan pada bulan november tahun 2015 yang lalu saya
berkesempatan untuk mengunjungi Pantai Kuta Bali. Sebelumnya saya sangat antusias
untuk mengunjungi pantai tersebut, tetapi setelah tiba disana saya merasa
sedikit (hanya sedikit) kecewa karena apa yang saya ekspektasikan sedikit
berbeda dari realita yang ada. Sebelumnya saya mengira bahwa Pantai Kuta sama
bagusnya seperti apa yang biasanya saya lihat ditelevisi, tapi ternyata apa
yang ditampilkan ditelevisi itu hanyalah berdasarkan pada apa yang ingin diperlihatkan
kepada pemirsanya saja (hanya hal yang bagus-bagus saja). Menurut pandangan
pribadi saya, jika di bandingkan dengan Pantai Kuta sebenarnya Pantai Panjang
jauh lebih indah. Hal tersebut dikarenakan Pantai Panjang memiliki pesonanya
sendiri yaitu pasirnya yang putih dan lembut. Jika memang demikian mengapa
Pantai Kuta Bali yang sebenarnya tidak jauh lebih bagus dari Pantai Panjang itu bisa begitu
terkenal sedemikian rupa hingga ketelinga para turis asing di mancanegara?
Sebenarnya, jika
dikelola dengan baik Pantai Panjang juga
bisa menyusul ketenaran dari Pantai Kuta. Pantai Kuta bisa lebih unggul dikarenakan
pihak dari pengelola dan masyarakatnya sendiri bisa bekerja sama untuk mengelola
berbagai sumber daya yang ada dengan sangat apik. Pantai tersebut di promosikan
sedemikian rupa sehingga bisa menarik minat para wisatawannya. Untuk Kota
Bengkulu sendiri kepedulian masyarakat jangankan untuk ikut mengelola dan
mengembangkan berbagai potensi-potensi wisata tersebut bahkan untuk menjaga
pantai-pantai dan tempat- tempat lain yang ada sebagai potensi pariwisata masih
sangat rendah. Hal tersebut terbukti dari banyaknya sampah-sampah yang berserakan
disekitaran pesisir pantai, dan yang lebih mirisnya lagi sampah- sampah
tersebut justru berasal dari para pengunjung yang kebanyakan merupakan
masyarakat Kota Bengkulu itu sendiri. Masyarakat yang mengunjungi pantai seringkali
melupakan pentingnya menjaga kebersihan, padahal hal tersebut sangat
berpengaruh karena apabila pantai-pantai tersebut bersih pastilah para wisatawan
akan lebih tertarik untuk mengunjunginya. Selain itu banyak sekali
tempat-tempat wisata yang disalah gunakan oleh masyarakat, seperti contohnya
Benteng For Malborough. Kondisi dari
situs peninggalan bersejarah itu juga sangat memprihatinkan. Benteng yang
seharusnya berfungsi sebagai museum bersejarah dan dijaga dengan baik malah
disalah gunakan dan bahkan ada banyak coret-coretan yang bisanya dilakukan oleh
para pelajar ataupun masyarakat yang berkunjung kesana.
Selain itu Bali
juga sangat terkenal dengan kekentalan dan keanekaragaman kebudayaannya.
Masyarakat bali dikenal sangat menjujung tinggi, menghargai, menghormati, dan
gencar untuk melestarikan serta mempromosikan kebudayaannya sehingga membuat
para wisatawan ikut terbius dengan kesakralan dari kebudayaan itu sendiri. Sebenarnya
Kota Bengkulu juga bisa menyusul keberhasilan Pulau Bali yang menjadi destinasi
utama liburan para pelancong baik dari luar maupun dalam negeri. Jika Bali mempunyai
adat istiadat dan kebudayaan yang kental, kita pun juga mempunyai keistimewaan
tersebut. Seperti yang kita sama-sama ketahui, Bengkulu mempunyai sebuah
upacara yang diadakan pada tanggal 1 hingga 10 Muharram setiap tahunnya yaitu
upacara Tabot. Selain itu ada juga berbagai kerajinan-kerajinan unik dan makanan
yang khas. Tapi seiring dengan perkembangan zaman dan kemodernisasian, kesakralan dan esensi dari upacara tersebut
kian memudar tiap tahunnya. Upacara Tabot yang dulunya sangat ditunggu-tunggu
dan dianggap sakral, perlahan mulai dianggap biasa. Antusiasme masyarakat untuk
menyambut upacara tersebut pun tidak seperti dulu lagi, hal tersebut terbukti
dari jumlah masyarakat yang mengunjungi lokasi dimana upacara tersebut berpusat
terliha kian menurun pada setiap tahunnya.
Jika kita memang
ingin memajukan dan menggali berbagai potensi yang ada di Kota Bengkulu ini,
hendaknya kita sebagai masyarakatnya ikut bertindak. Memang akan muncul
berbagai pernyataan seperti “Memangnya apa yang bisa kita lakukan? Toh kita cuma
masyarakat biasa yang tidak punya kewenangan apa-apa, semua itu kembali lagi
tergantung pada pemerintahnya.” Semua keputusan dan pengelolaan sumber daya dan
potensi yang ada pada tiap-tiap daerah memang sudah merupakan kewenangan dari
pemerintah tapi kita sebagai masyarakat tidak bisa terus-terusan bergantung dan
melimpahkan semuanya pada pemerintahan, toh apabila nantinya pemerintah sudah
gencar-gencarnya melakukan pengelolaan untuk berbagai potensi tersebut akan
tetap terasa percuma saja jika kita sebagai masyarakatnya masih tidak bisa
menjaganya dengan baik. Itu artinya hendaknya baik masyarakat maupun pemerintah
berusaha bersama-sama dan saling bahu membahu untuk membangun Bengkulu,
bukannya malah saling salah menyalahkan satu sama lain.
Sebenarnya masih
banyak sekali potensi-potensi yang bisa digali dari Provinsi Bengkulu, hanya
saja kita sebagai masyarakatnya yang kurang pandai dan cermat dalam
memanfaatkan berbagai potensi tersebut. Setidaknya jika kita memang masih belum
bisa menjadi pelopor untuk sebuah perubahan yang lebih baik, marilah memulai dengan
menjaga apa yang sudah ada dan bukannya malah menambah kerusakan. Pasti akan selalu
ada jalan jika ada kemauan untuk merubah Kota Bengkulu menjadi lebih baik lagi.